_Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1437 Hijriah_

_Asslamu 'alaikum_ Apa kabar ikhwan & akhwat semua...??? Kabar Baik kan ? Alhamdulillah.... Sahabat ingin karya & tulisannya ditampilkan di situs HTN Online ini ???, Silahkan kirim karya asli sahabat ke email: mustopakamalbatubara@gmail.com atau kirim ke facebook: Mustopa Kamal Btr. Setelah sahabat kirim, silahkan konfirmasi ke 0877 6751 7060. Ditunggu ya...!!!! _AKU MAHASISWA_ _ AKU BERKARYA_ _AKU ADA_
Tampilkan postingan dengan label Insfirasi Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Insfirasi Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Oktober 2015

Film HTN “Sepucuk Surat untuk Rektor” Mau Tahu Gimana Jalan Ceritanya ?? Klik Disini...!!!



Skenario Film Pendek Fiktif Narative
“Sepucuk Surat untuk Rektor”
A Film by Mustopa Kamal Btr



Skenario
Mustopa Kamal Btr


Karakter Tokoh Film
Ali (Tokoh Utama): Baik, rajin & prihatin terhadap permasalahan kampus & HTN
Dayat (Teman akrab Ali): Suka membantu, agak berani, selalu membela Ali
Lian (Pemeran antagonis): Suka merendahkan Ali, sombong, egois
Chika (pacar Lian): Membela Ali, sering ribut dengan Lian
Rektor: Membaca surat Ali
Dosen: Memberi mata kuliah di lokal
Jurnalis UIN: Menyampaikan surat Ali

Sinopsis
Ali adalah seorang mahasiswa semester dua UIN Suska, Ia seorang yang sangat peka terhadap permasalahan dunia pendidikan dan kampus. Rasa bangganya terhadap UIN Suska memudar setelah ia melihat kekurangan dan fasilitas yang tidak memadai di kampusnya ini.
Suatu hari ada lomba menulis surat untuk rektor yang diadakan oleh media mahasiswa, Ali mengikuti acara itu dengan harapan rektor bisa mendengarkan keresahannya terhadap berbagai permasalahan kampus yang ia lihat. Akhirnya ia mendapat predikat juara satu. Rektor membaca suratnya dengan perasaan terharu. Akhirnya rektor memperbaiki fasislitas dan manajemen kampus UIN suska.

Skenario
Setting: (Ali berjalan menuju kampus)
Ali: Perkenalkan namaku Ali. Aku adalah anak kampung yang mempunyai sejuta mimpi. Aku hijrat ke kota bertuah ini dengan harapan bisa mendapatkan pendidikan yang layak agar kelak aku bisa meraih semua mimpi indahku itu.

Setting: (Di depan gerbang dan gedung rektor kampus UIN suska)
Ali: Inilah kampusku, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif kasim Riau atau yang lebih sering disingkat dengan UIN Suska. Kata Koran yang aku baca kampus nan megah dari luar ini merupakan salah satu kampus termegah di tanah pertiwi ini. Akupun bangga berdiri di kampus para pejuang ilmu ini.

Setting: (Melihat toilet rusak, ruangan gerah, bangku rusak)
Ali: Rasa banggaku itu perlahan memudar setelah melihat berbagai permasalahan kampus perjuangan ini. Aku ingin sekali mengaspirasikan suara mahasiswa khususnya mahasiswa Jurusan HTN ke pak rektor,  tapi aku tidak tahu harus bagaimana caranya. Hingga suatu hari….

Setting: (Di kelas dosen menjelaskan mata kuliah Ilmu Negara. Ali bertanya. Lian mencemeehkan)
Ali: Bu kenapa pendidikan di Negara kita ini jauh tertinggal dengan Negara-negara lain ?
Dosen: Pertanyaan yang bagus. Salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan kita
Lian: sok-sok-an bertanya, caper biar dikenal dosen (berbisik ke Ali)

Setting: (Pulang kuliah, keluar dari kelas menuju mading)
Dayat: Ali kita ke mading yuk
Ali: Ngapain Yat ?
Dayat: Lihat info aja, mana tau ada info baru

Setting: (Di mading)
Dayat: Coba liat ini Li, ada lomba menulis surat untuk rektor
Ali: “Siapa yang ngadain ?”
Dayat: “Organisasi media mahasiswa. Kamu ikutan ya ?”
Ali: “Hmmm… lihat-lihat nanti ajalah An”
Dayat: “Kamu kan sedang prihatin dengan dunia pendidikan di kampus kita, tema itu kan bisa kamu angkat. Terus kalau nanti menang kan lumayan, bisa traktir kita-kita hehe…”
Ali: “Hmmm Lian modus aja ya, akhir-akhirnya minta traktir juga”
Lian: Prihatin masalah kampus atau pengen dapat hadiah karena gak ada uang ??? (Lian tiba-tiba menghampiri dari belakang)
Dayat: Rese banget sih lo Lian. Ngapain kalian ngikutan kami ?
Lian: Siapa juga yang ngikutin kalian. Idihh… kami cuma kebetulan lewat sini aja cemong. Benar kan teman-teman…???
Teman-teman Lian: Iya dong (serentak temannya menjawab)
Dayat: Dasar kalian ya. Kerjanya cuma nayari-nyari masalah terus..
Ali: Udah Yat, gak usah dibesar-besarkan
Lian: Apa kau cemong, sini kalau berani
Dayat: Bangsat….
Chika: Stop…!!! Lian kenapa sih cari masalah terus, masalah cinta kita aja masih luntang-lantung, ini nyari masalah lagi sama Ali dan Dayat. Kasihan kan mereka gak ada salah
Lian: Chik… sebenarnya kamu pacar Ali atau pacar aku ?
Chika: Pacar kamu.. emang kenapa ?
Lian: Jadi kenapa kamu belain mereka sih yayang ? bukan belain abang ?
Chika: Iya juga ya ?
Lian: Ya udahlah, kalau kamu lebih milih mereka. Jangan nyesal ya. Yok kita cabut aja teman-teman.
Teman-teman Lian: Ok Bos…
Chika: Yayang… tunggu aku…!!!

 Seting: (Di kos Ali menulis surat untuk rektor)

Pekanbaru, 28 Oktober 2015

Kepada yang Terhormat,
Bapak Rektor Kampus Perjuangan
Di Pekanbaru.

Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.
Sebelumnya ananda mendoakan semoga bapak senantiasa diberi Allah nikmat kesehatan dan kesempatan, agar bapak dapat menjalankan amanah sebagai pemimpin di kampus pejuang ilmu yang megah luar biasa ini.
Kugoreskan pena di kertas putih ini dengan perasaan berbunga-bunga karena dedaunan yang bergoyang dan mentari yang tersenyum jadi saksi bisu berdirinya aku di kampus perjuangan para mujahid ilmu ini, kampus yang kata koran yang aku baca merupakan kampus terbaik yang ada di bumi Lancang Kuning ini, aku pun tersenyum bangga bisa menjadi bagian dari kampus yang besar ini.
Pak rektor yang terhormat
Ketika aku baru pertama kali menginjakkan kaki di kampus nan megah ini aku sangat bahagia sekali. Aku sangat kagum melihat gedungnya yang menjulang tinggi dengan arsitektur modern yang di kolaborasikan dengan gaya khas melayu, taman-taman yang tertata rapi menambah kekagumanku terhadap kampus perjuangan ini.
Pak rektor yang mulia
Rasa kekagumanku yang yang dulu, perlahan-lahan pudar karena berbagai permasalahan kampus yang menggrogoti pikiranku di saat ini. Bapak, ini bukanlah cerita yang mengada-ada akan tetapi ini adalah realitas kampus kita.
Kami berkumpul di belakang gedung belajar ini beralaskan tanah beratapkan langit, kami berada di sini bukanlah untuk bersenda gurau atau sekedar istirahat, namun kami duduk di belakang kampus ini untuk belajar mata kuliah Ilmu Hukum dengan ibu Puspita, dosen yang pengertian dan memaklumi akan permasalahan kampus kita ini.  Pak, kami terpaksa di sini karena kesemrautan manajemen pembagian ruang belajar sehingga tidak ada lagi lokal yang tersisa untuk kami yang minoritas di hari Kamis ini. Kami hanya bisa merajut asa di atas ketidakpantasan. Pak rektor, ironis bukan ?
Pak rektor yang terhormat
Di saat ini juga kami tengah bergelut dengan desakan-desakan semester yang mulai menuai di jurusan Hukum Tata Negara. Ingatkah bapak bahwa kampus kita ini mempunyai kajian ilmu seperti ini ?. Saya yakin bapak adalah orang yang kuat ingatan. Apakah bapak tahu bahwa kami belajar di kampus ini bukanlah menengadahkan tangan kepada orangtua ?. Tidak jarang kami harus memeras keringat untuk mencari nafkah dan uang kuliah, karena orangtua kami di kampung hanyalah seorang buruh kehidupan. Terkadang air mata ini mengalir menganak sungai ketika melihat sarana dan pra-sarana kampus yang tidak sepadan dengan uang SPP yang harus kami bayar tiap semesternya.
Di samping itu, perasaan cemburu terkadang datang menghampiriku ketika memperhatikan bapak seakan tak melihat kami yang minoritas ini. Mahasiswa yang dari tahun ke tahun hanya disediakan untuk satu kelas saja. Kenapa kuota untuk mahasiswa baru setiap tahun tidak pernah ditambah di jurusan kami ini Pak ?. Hukum Tata Negara, bukankah jurusan ini sangat urgen pak rektor ?. Bukankah negeri ini butuh orang-orang yang ahli di bidang tata negara ?. Ya di jurusan kami inilah dipelajari tentang disiplin ilmu-ilmu itu. Sedih rasanya menyadari bapak hanya memperdulikan meraka saja, mahasiswa yang mayoritas.
Aku terkadang malu kepada diriku sendiri ketika melihat di gedung kampus kita ini terpampang spanduk besar bertuliskan menuju “Word Class University”. Apakah kampus seperti ini bisa menjadi universitas berkelas dunia ?. Kampus yang infokusnya tidak memadai, kursinya tidak terawat, toiletnya tidak terurus?.
Pak rektor yang mulia
Itulah segelintir problem yang menggrogoti pikiranku saat ini, semoga bapak dapat memberikan solusi dan pencerahan, terakhir terucap salam cinta dan doa dari seorang mahasiswa yang sedang berada di persimpangan hati, tentang harus bangga atau justru harus malu berdiri di atas kampus perjuangan yang tidak bersahabat ini. 
Terucap salam cinta dan doa pula dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara (HMJ HTN) yang sedang prihatin terhadap berbagai permasalahan kampus kita ini. Kami semua selalu berdoa agar bapak tetap dalam lindungan Allah dan diberikan kekuatan oleh-Nya, karena kami juga tahu bahwa mengurus kampus perjuangan yang besar ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Semoga bapak diberi umur panjang agar kelak bisa menjadikan kampus ini sebagai surga bagi para mahasiswanya.

Muhammad Ali
Mahasiswa Hukum Tata Negara

Setting: (Di lantai tiga keluar dari lokal menuju mading)
Ali: Yat hari ini pengumuman pemenang surat untuk rektor
Dayat: Benarkah ? kalau begitu yuk kita langsung ke mading
Ali: yuk Yat

Setting: (Di mading)
Dayat: Li, coba Liat ini nama kamu. Kamu dapat juara Satu.
Ali: Alhamdulillah ya Allah, aku gak nyangka Yat bisa dapat juara satu.
Dayat: Syukurlah Yat. Pepatah itu memang benar, siapa-siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan kemenangan
Ali: Iya Yat
Dayat:Alhamdulillah... Syukurlah Ali. Tapi jangan lupa ya janjinya kemarin apa. Hehe…”
Ali: “Traktiran kan ?”
Dayat: “Lebih dari itu juga gak papa”
Ali: “Hmm… Lian jangan khawatir. Aman kok”
Lian: Benar kan prasangka kita teman-teman, mereka ikut lomba agar dapat hadiah sama uang (Lian dan teman-temannya menghampiri dari belakang)
Teman-teman Lian: Iya Bos, prasangka kita memang selalu benar
Dayat: Dasar makhluk rese. SMS (Susah Melihat orang Senang)
Ali: Udah Yat gak usah didengar

Setting: (Di Kantor Media Mahasiswa, Ali diundang ke tempat penyelenggara acara untuk mengambil hadiah)

Jurnalis UIN: Terimakasih ya Ali atas partisipasinya dalam acara ini. Tetap semangat tuk menyuarakan aspirasi mahasiswa lewat tulisan ya. Dan satu hal terpenting yang harus Ali tahu kami sudah memberikan surat yang Ali tulis ke pihak rektorat. Kata mereka bapak rektor sudah membacanya, beliau sangat terharu saat membaca bait demi bait dan terakhir rektor berjanji akan mengevaluasi ulang penyediaan fasilitas dan pelayanan yang ada di kampus ini. Selain itu, dalam waktu dekat ini gedung belajar yang ada di Fakultas Syariah & Hukum akan ditambah agar dapat menampung seluruh mahasiswanya.
Ali: Terimakasih banyak kak atas perpanjangan tangannya ke pihak rektorat dan saya sangat bersyukur dengan adanya lomba ini, kita bisa mengaspirasikan keluh kesah para mahasiswa
Dayat: Iya kak, saya sebagai teman setia Ali juga tidak lupa mengucapkan ribuan terimakasih
Jurnalis UIN: Iya dek sama-sama

Setting: (Menyorot gedung Fakultas Syariah & Hukum yang sedang dalam proses pembangunan)
Ali: Semenjak surat yang aku tulis dibaca pak rektor, fasilitas kampus sudah mulai diperbaiki dan gedung belajar mulai dibangun dan dibenahi. Inilah kampusku, UIN Suska Riau. Sekarang ia telah menjadi surga bagi setiap mahasiswanya. (Ali tersenyum bangga).





SEKIAN
TERIMAKASIH









Selasa, 13 Oktober 2015

Surat Kecil untuk Bunda (Terbit di Riau Pos Edisi 20 September 2015)



Surat Kecil untuk Bunda
Oleh: Mustopa Kamal Btr
(Mahasiswa HTN, UIN Suska Riau)


Gadis berambut panjang itu sedang merenung di sudut malam. Di dalam kamar kos, ia teringat kampung halamannya. Ia terngiang kasih sayang keluarganya. Ia terbayang masakan bundanya. Ia merasa baru saja kemarin sore bercanda dengan keluarga kecilnya di kampung, namun sekarang ia sudah berada di kota Pekanbaru untuk merajut sebuah cita-cita.
Wardah, demikian nama panggilannya. Beberapa hari ini ia terlihat murung. Rasa rindu yang sedang menghantui batinnya semakin membuncah karena gadis yang baru resmi jadi mahasiswa ini sebelumnya tidaklah pernah jauh dari keluarga.
“Wardah kenapa ?” ujar Nur, kakak kosnya.
“Wardah teringat sama bunda di kampung kak”
“O. Kangen itu hal yang wajar, apalagi Wardah baru saja jadi mahasiswa. Yang penting Wardah jangan lupa berdoa untuk orangtua agar diberikan kesehatan dan umur panjang. Wardah harus percaya, suatu saat nanti kita akan berkumpul lagi dengan keluarga di kampung”
“Iya kak”
“Kakak tidur duluan ya”
Wardah belum bisa tidur. Siluet keluarga masih tergambar jelas dalam benaknya, terlebih-lebih seorang bunda yang selalu siap berkorban disaat ia sedang membutuhkan. Gadis nan jelita itu mengambil secarik kertas. Ia tuangkan semua hasrat hati yang sedang menghantui pikirannya.

Pekanbaru, 15 September 2015
Kepada yang tercinta,
Bunda di kampung halaman.

Assalaamu ‘Alaikum Wr. Wb.....

Apa kabar bunda di sana ?. Wardah mendoakan semoga bunda senantiasa diberi kesehatan oleh Allah, agar suatu saat nanti bunda bisa melihat putri bunda ini memakai toga ketika wisuda. Wardah goreskan pena di lembaran putih nan mungil ini dengan diselimuti rasa rindu. Tahukah bunda, surat kecil ini Wardah tulis dengan tinta linangan air mata, karena mengingat kesalahan yang pernah Wardah perbuat dulu selama di kampung.

Bunda
Engkaulah satu-satunya wanita yang mencintaiku tanpa syarat, yang selalu setia menjaga dan menuntunku setiap saat. Semua pengorbanan yang telah bunda berikan takkan hilang ditelan zaman. Kasih sayang yang telah bunda persembahkan akan terlukis indah di langit biru. Bunda, walaupun saat ini kita sedang dipisahkan oleh jarak dan waktu namun kasih sayang dan doa yang bunda panjatkan, selalu Wardah rasakan di setiap getaran nafas ini.
.
Bundaku sayang
Sembilan bulan engkau mengandungku, di dalam lautan rahim kasih sayang. Rasa sakit bunda tanggungkan, rasa perih bunda tahankan, asalkan anakmu ini bisa menatap indahnya dunia. Bunda pertaruhkan nyawa disaat melahirkanku, bunda pasrahkan diri terhadap takdir yang kuasa. Bunda sambut aku dengan senyum manis ketika baru pertama kali hadir ke dunia, tapi senyum manis itu Wardah balas dengan tangisan yang sangat memekakkan telinga, betapa egoisnya putrimu yang tidak tahu diri ini bunda.
Si kecil nan imut perlahan-lahan tumbuh menjadi anak nan lugu, bermain-main di halaman rumah penuh keceriaan tanpa sedikitpun merasakan beban hidup yang sedang bunda pikul. Senyum indah selalu terpancar dari sudut pipi ketika Wardah tumbuh menjadi seorang remaja. Si remaja ini terkadang sudah tidak tahu terima kasih lagi karena sering menyusahkan sang bunda bahkan sering melawan jika keinginannya tidak dituruti. Kini Wardah sudah dewasa bunda, Wardah telah menyadari akan arti dari sebuah kehidupan ini, sekarang juga Wardah sudah tahu tentang beban hidup yang selama ini bunda tanggungkan.
Bunda maafkan kesalahan Wardah selama ini. Dulu Wardah sering tidak menghiraukan nasehat bunda. Sering membuat risau hati bunda. Sering tidak minta izin ketika Wardah bermain ke rumah teman. Sering melawan jika keinginan Wardah yang terlalu berlebihan tidak dituruti, bahkan sering meninggalkan bunda ketika sakit, demi acara yang tidak jelas yang sebenarnya bisa wardah tinggalakan. Mungkin Wardah adalah anak yang tidak tahu diri pada saat itu karena tidak bisa menemani bunda seutuhnya. Sekali lagi maafkan putrimu yang nakal ini bunda.
Bunda, semua kenangan indah dulu masih terngiang jelas di benak Wardah. Saat adzan berkumandang, bunda selalu menuntun wardah tuk tunaikan kewajiban kepada tuhan. Saat gelap menyapa senja, bunda ajari Wardah membaca kalam Ilahi. Saat malam semakin kelam, bunda selalu bersedia mendengarkan semua keluh-kesah Wardah. Bunda, semua kenangan manis itu terasa baru saja berlalu dan masih tampak nyata dalam bingkai rinduku. Wardah percaya bunda juga tidak akan melupakan kenangan itu.

Bundaku sayang
Sekarang Wardah perlahan bisa berdiri tegar seperti yang telah bunda ajarkan dulu, namun hati ini tetap rapuh jika Wardah mengingat semua pengorbanan bunda selama ini. Bunda, maafkan anakmu ini jika kadang Wardah lupa menanyakan kabar bunda dan maafkan Wardah jika saat ini belum bisa kembali ke pelukan bunda karena kaki ini masih terus melangkah tuk meraih asa dan mengejar cita-cita.
Melalui surat kecil ini, ananda ingin mengucapkan ribuan terimakasih kepada bunda. Terima kasih atas cinta bunda yang begitu tulus. Terima kasih atas kasih sayang bunda yang melebihi dari lembutnya sutera. Terima kasih atas segala pengorbanan dan perjuangan bunda dalam membesarkan Wardah. Andai seluruh dunia berada dalam genggamanku, akan Wardah persembahkan seluruh isinya untuk bunda, ingin Wardah tumpahkan semua airmata ini dan bersimpuh di bawah kaki bunda.

Bundaku sayang
Entah harus bagaimana Wardah membalas semua jasa-jasa yang telah bunda berikan. Wardah tidaklah mempunyai nyawa yang kuat seperti saat bunda melahirkanku ke dunia ini. Hanyalah untai doa yang bisa Wardah panjatkan kepada Allah semoga bunda diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga dengan untaian kata yang Wardah tulis dalam surat kecil ini, dapat mengobati rasa rindu kita semua.
Terakhir terucap salam rindu dari Wardah yang sedang melayari samudera ilmu di kota bertuah. Semoga bunda selalu dalam lindungan Allah dan diberikan kekuatan oleh-Nya, agar suatu hari nanti kita bisa bertemu dalam kisah kebahagiaan hidup di dunia.

Anakmu tercinta.
Siti Wardah

Gadis itu terlihat memberi amplop kepada seorang lelaki yang sedang berdiri di samping bus berwarna biru tua. Amplop yang berisikan surat itu Wardah titipkan dengan perasaan terharu. Ia berharap, surat kecil yang ia tulis itu bisa sampai secepatnya ke tangan sang bunda.
“Alamatnya di dusun satu desa Bange Pak. Pas di samping rumah saudagar besar itu Pak” ujar Wardah kepada sang sopir bus.
“Baik Dek. Akan saya usahakan sampai secepat mungkin” jawab sang sopir memegang amanah.
“Terimakasih banyak Pak”
Perempuan paruhbaya itu menitikkan airmata ketika membaca surat yang dikirimkan putrinya. Ia terharu membacanya. Ia merasa iba melihat jantung hatinya itu hidup sebatang kara di rantau orang. Ia hanya bisa diam seribu bahasa.
“Bunda kenapa ?” tiba-tiba Evi, putri bungsunya menghampiri.
“Ini ada surat dari kakakmu, Wardah”
“Emang kak Wardah kenapa bunda ?”
“Kak Wardah katanya kangen”
“O. Evi juga kangen sama kakak”
Gadis itu merasa lega setelah membaca balasan surat bundanya dari kampung. Semangat hidupnya kembali pulih. Ia seolah baru saja sembuh setelah sekian lama jatuh sakit. Ia semakin gigih tuk belajar. Ia semakin kuat tuk meraih impian besarnya agar kelak ia bisa membawa sebongkah kebahagiaan tuk keluarganya di kampung.