BUDAYA MELAYU DI GENERASIKU
Karya:
Mustopa Kamal Btr
Pada senin yang cerah ketika panas mulai
membakar kulit, sekitar pukul sebelas siang aku berjalan di bawah terik mentari
yang sedang marah, aku susuri jalan buluh cina yang begitu menyesakkan dada.
Aku berjalan dengan hati-hatinya di pinggiran mobil dan motor yang sedang
lalu-lalang, perlahan-lahan aku ikuti hentakan kaki menuju kampus, tempat
kuliahku.
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif kasim
Riau inilah kampusku, salah satu universitas termegah yang ada di bumi pertiwi
dan menjadi salah satu universitas dengan jumlah mahasiswa terbanyak di negeri
Indonesia ini. Tidak kurang dari dari 26.000 mahasiswa dari berbagai penjuru
negeri berdatangan ke sini untuk menimba ilmu, namanya diambil dari nama sultan
ke-12 kerajaan Siak Sri Indrapura.
Tidak terasa aku sudah sampai di depan gedung
belajar fakultas syariah, aku melaju diiringi hentakan kaki, perlahan-lahan aku
naiki anak tangga menuju lantai dua. Di lantai dua mataku tertuju ke ruang 10,
ya hari ini kami belajar di ruang belajar syariah 10. Aku berhenti sejenak
melihat pintu yg ditutup, lalu ku ketuk pintu sembari mengucap salam “Assalamu
‘Alaikum” lalu temanku Rahman membukanya sekaligus menjawab salamku “Wa’alaikum
salam silahkan masuk mal”.
Mal atau kamal inilah nama panggilanku, nama
lengkapku adalah Mustopa Kamal, nama yang diberikan kedua orangtuaku delapan
belas tahun silam, aku berasal dari desa nan jauh di pedalaman Bengkalis dan
aku adalah anak pertama dari empat bersaudara. Aku melangkah menuju bangku,
terlihat di depanku tiga teman lain sedang asyik-asyiknya bernyanyi diiringi
musik dari HP Nokia yang ada di tangan salah seorang dari mereka, “Lagi ngapain
teman-teman?” inilah ungkapan yang aku ucapkan ketika sedang menyapa mereka,
lalu mereka menjawab dengan acuhnya “lagi nyanyi” kemudian aku menuju tempat
duduk.
Suara bising menyelinap di telingaku, hatiku
sontak miris setelah memperhatikan lagu-lagu yang mereka nyanyikan, ternyata
mereka menyanyikan lagu yang tidak sesuai dengan budaya dan agama kami, mereka
menyanyikan lagu bergenre cinta yang liriknya sangat vulgar dan tidak sesuai
dengan budaya kami, budaya melayu. “Peluk erat tubuh ku sentuhlah
jemariku......” inilah penggalan lagu yang mereka nyanyikan dengan girangnya,
setelah lagu itu habis silih berganti lagu sejenisnya, sambung menyambug mereka
putar dan mereka nyanyikan, ekspresi mereka juga tidak mencerminkan dirinya
sebagai anak melayu yang memegang teguh adat dan budayanya. Hatiku miris bak
disayat sembilu, seolah langit menimpa diriku. Kemudian aku keluar dari ruangan
itu lalu temanku Rahman menyapaku “Mau
kemana mal ?’’ tanya rahman , mau keluar dulu man di sini gerah, jawabku.
Mataku tertuju ke tiang di sudut teras kelas,
lalu aku berdiri sambil termenung, pikiranku di bayang-bayangi prilaku
teman-temanku di dalam kelas tadi. Hati kecilku bertanya-tanya apa benar mereka
telah terhanyut oleh arus zaman, yang mungkin derasnya melebihi arus sungai
siak di sudut kota bertuah ini, sehingga mereka telah melupakan adat dan budaya
melayu adat yang santun yang identik dengan nilai-nilai keislaman.
Tiba-tiba Sabil datang menghampiriku ia adalah
kosma kami, “Gimana kabarnya mal, apa akhir pekannya menyenangkan?” tanya
sabil, “Alhamdulillah baik bil, akhir pekannya lumayan menyenangkan melang-lang
buana ke dunia maya mencari merpati ilmu hehe...” jawabku sambil bercanda. Ya
akhir pekan biasanya aku manfaatkan ke warnet samping kos ku untuk
menyelesaikan tugas-tugas kuliah, aku tidak bisa seperti teman-teman yang lain
pergi jala-jalan kalau akhir pekan tiba, karena uangku hanya pas-pasan untuk
makan sedangkan untuk uang kuliah aku harus banting tulang, mengangkat-angkat
beras dari mobil truck ke warung pak
Dahlan samping kosku, apabila kami sedang tidak masuk kuliah. Aku tidak mau menyusahkan
kedua orangtuaku di kampung, karena orangtuaku hanyalah seorang buruh
kehidupan.
Kemudian aku bertanya kepada Sabil “Sabil kok
bapak dosen lama datang ya?”, “Enggak tau mal soalnya semalam bapak tu udah aku
telpon, apa hari ini kita masuk kuliah atau nggak, tapi nomor HP bapak itu
nggak aktif mal”. Kadang kala sang dosen tidak bisa masuk di karenakan tugas
dari kampus, dan itulah tugas seorang kosma menghubungi sang dosen untuk
menanyakan masuk kuliah atau tidak. Lalu
kosma mengeluarkan HP dari sakunya dan kembali menelpon bapak Ismardi dosen
mata kuliah fiqih kami, “Assalamu ‘alaikum hallo pak, ini kosma jurusan Jinayah
Siyasah pak, mau menanyakan apa hari ini kita masuk kuliah pak?” demikian
ucapan kosma yang aku dengar. Sesudah Sabil selesai menelpon bapak dosen, lalu
ia mengatakan bahwa hari ini bapak
Ismardi tidak bisa masuk disebabkan sedang tugas di luar kota, lalu Sabil
mengumumkan kepada teman-teman yang lain bahwa hari ini kami tidak masuk.
Aku turuni satu persatu anak tangga menuju lantai
bawah, hentakan kaki mengarahkanku ke bawah pohon mungil di depan gedung
belajar, aku putuskan pulang dengan naik angkot disebabkan matahari yang
semakin marah dan cuaca yang tidak mau bersahabat dengan setiap insan pada
pukul dua belas siang ini. Aku duduk pas di belakang sopir, lagi-lagi hatiku
sontak kaget mendengar lagu yang sedang diputar, “Ku hamil duluan sudah tiga
bulan gara-gara pacaran di gelap-gelapan.....”. Hati kecilku pun kembali
bertanya “Apa benar budaya barat telah merasuki budaya bangsa ini, sehingga
kata-kata yang tak senonoh telah dijadikan sebagai lirik lagu di negeri
mayositas berpenduduk Muslim ini. Anak bangsa telah menenggelamkan budayanya
sendiri yaitu budaya orang timur, lagu-lagu bergenre kebarat-baratan
gembar-gembor diperdengarkan, sedangkan budaya sendiri seolah terusir dari
negeri sendiri.
Saat ini lagu bergenre budaya melayu sangat
jarang terdengar di kota bertuah, Pekanbaru ini. Sama halnya seperti sulitnya
menemukan air di tengah gurun pasir. Generasi muda lebih mengenal Justin Bieber
dari pada Raja Ali Haji seorang sastrawan melayu yang terkenal dengan gurindam
dua belasnya. Generasi muda lebih hafal lirik lagu Michael Jackson dari pada
lirik lagu melayu. Beginilah kondisi kebudayaan melayu di generasiku ini,
generasi dimana aku hidup sekarang. Aku tidaklah menyalahkan apabila generasi
muda cinta kepada budaya orang lain akan tetapi kecintaannya tersebut jangan
sampai melebihi cintanya kepada budaya sendiri.
Tidak terasa angkot yang aku tumpangi sudah
mendekati kos tempat tinggalku, “Berhenti di sini pak” pintaku kepada sang
sopir, lalu aku mengambil uang yang ada di saku celanaku untuk ku berikan
kepada sang sopir. Inilah tempat tinggal ku, kos yang sangat sederhana, barang
elektronik seperti TV, kipas angin, tidak akan kita lihat di dalam gubuk derita
ini. Apalah daya tinggal di kos mewah dengan fasilitas lengkap, aku hanyalah
seorang budak (anak) miskin yang berasal dari desa nan jauh di pedalaman
Bengkalis sana, yang sengaja datang ke Kota bertuah ini untuk merajut asa dan
meraih cita-cita.
Seiring
dengan ku gantungkannya tas di sudut ruangan, terdengar olehku kumandang adzan
zuhur membahana menembus ruang angkasa. Aku melangkah ke kamar mandi untuk
berwudhuk, ku basuh wajahku dengan air nan suci, aku berharap air ini akan jadi
saksi amal-amalku disaat menghadap sang Rab di akhirat kelak. Kemudian aku
mengerjakan shalat zuhur empat rakaat, setelah selesai ku tadahkan tanganku dan
berdoa kepada sang Khalik “Ya Allah ya tuhanku ampunilah dosa-dosaku dan
dosa-dosa kedua orangtuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku
di waktu kecil. Ya Allah kabulkanlah cita-citaku, jadikanlah aku orang yang
sukses di suatu hari nanti. Ya Allah jadikanlah generasi muda kami menjadi
orang-orang yang mencintai budayanya sendiri, dan jauhkanlah kami dari budaya
yang tidak sesuai dengan agama Islam ini. Ya Allah perkenankanlah doaku,
hanyalah engkau ya Allah yang maha kuasa atas segalanya. Rabbanaa aatinaa fid
dunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzabannar. Aamiin.......”
Hati begitu tenang setelah selesai mengerjakan
shalat, tiba saatnya untuk makan siang. Ku ambil piring dan nasi yang telah aku
masak tadi pagi, dengan ucapan Bismillah aku makan nasi dengan lauk apa adanya.
Setelah selesai makan, mataku tertuju kepada buku yang ada di sudut ruangan,
yaitu sebuah buku pemberian dari salah seorang dosenku dua hari yang lewat.
Buku ini sangat bagus, karena berisi tentang motivasi dan semangat hidup.
Tidak terasa buku sudah aku baca sampai halaman
lima puluh, rasa lelah mulai mendera. Ku tutup buku, kemudian ku rebahkan
sekujur tubuh ke tempat tidur, sambil berbaring ku putar lagu melayu dari
handphone. “Lancang kuning, lancang kuning belayar malam, hai berlayar
malam......” inilah penggalan lirik lagu yang menjadi pengantar tidurku di
siang hari ini. aku pun tidur dengan nyenyaknya.
Aku terbangun dari lelapnya tidur ketika jarum
jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Ku buka pintu rumah, ku pandangi jagat raya,
terlihat mendung menyelimuti bumi. Walaupun mendung menyapa alam, ingatanku
seolah masih terbawa disaat aku tidur tadi. Ternyata tadi aku bermimpi indah,
aku bermimpi jadi seorang raja yang tinggal di istana megah dan seorang
permaisuri nan cantik jelita melengkapi kebahagiaan di sisiku.
Di dalam mimpi itu, aku adalah seorang raja
yang menguasai seantero negeri. Dalam mimpi itu juga aku membangun pusat
kebudayaan melayu dunia, di tanah kelahiranku daerah Bengkalis. Alangkah
bahagianya hidupku di dalam mimpi itu. Secercah senyum tergores di bibirku
mengingat-ingat mimpi siang bolong tadi, aku berharap ini tidak hanya sekedar
mimpi belaka, aku berharap suatu saat nanti akan bisa mewujudkan mimpi indah
tersebut.
Matahari mulai menghilang di ufuk barat,
burung-burungpun lalu-lalang menuju peraduan masing-masing, langit mulai menghitam,
awan merah mulai memperlihatkan keindahannya kepada setiap insan yang
bertebaran di muka bumi, gema adzan maghribpun berkumandang menghiasi jagat
raya. Terlihat oleh ku insan yang berduyu-duyun menuju Masjid Darul Amal
sekitar 200 meter dari kos ku, masjid ini adalah saksi bisu mahasiswa-mahasiswa
UIN SUSKA menghadapkan diri kepada sang Rabbul Jalil, Allah SWT. Aku mengambil
peci yang ada didekat baju, lalu bergegas menuju masjid tersebut, untuk
melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Kamipun shalat dengan khusukny,a
merendah diri kepada tuhan semesta alam, Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.
Setelah selesai shalat, Aku mengambil Al-qur’an
yang ada di lemari Masjid, hatiku terasa sangat tentram ketika membaca
firman-firman Allah ini. Alqur’an adalah kitab suci ummat Islam, agama yang
Rahmatan lil ’aalamin. Kitab suci ini adalah pedoman hidup dalam mengarungi
samudera kehidupan. Dengan melaksanakan ajaran-ajaran yang terkandung di
dalamnya, hidup manusia akan selamat dunia dan akhirat.
Tidak terasa setelah mengaji, suara adzan
kembali bergema menandakan waktu isya sudah tiba. Kamipun shalat berjamaah di
sudut keheningan malam yang dihiasi gemerlap bintang-bintang. Setelah selesai
mengerjakan shalat isya, aku pulang menyusuri sudut malam, menuju kos. Dari
kejauhan aku melihat dua insan yang sedang menungguku di depan pintu kos ku.
Perlahan-lahan aku mendekat, ternyata mereka adalah teman sekelasku, Ridho dan
Habib.
“Hai mal, dari mana?” tanya salah seorang dari
mereka, “Ohh, dari masjid shalat isya” jawabku, kamipun masuk ke dalam kos.
Kami duduk di lantai beralaskan tikar, mereka sudah memaklumi bagaimana
keadaanku, lalu Ridho bertanya kepadaku “Mal kami mau nanya tentang makalah
kita besok, apa sudah selesai?”. “Ohh makalah itu, sudah Ridho kemaren udah aku
kerjain, jangan khawatir”.
Kemudian kami ngobrol-ngobrol ringan, mulai
dari masalah kampus hingga masalah politik. Ketika ngobrol, Habib mengeluarkan
HP dari sakunya dan memutar lagu barat. Aku menghela nafas ketika mendengar
lagu yang sedang diputar. Habib mengambil HP dari tanganku sembari minta izin,
“Mal aku make HP mu ya, mau ngirim-ngirim lagu”. “Iya silahkan” jawabku, “Mal
di sini nggak ada lagu-lagu band ya, kok semuanya lagu-lagu melayu sih” kata
Habib. “Iya Bib aku kurang suka lagu-lagu kayak gituan, aku lebih suka
lagu-lagu melayu karena aku sangat cinta budaya kita” jawabku. “Aduh... Mal
kamu kuno banget sih, kita tu anak muda, kita nggak boleh ketinggalan zaman, ya
lagu-lagunya harus kayak di HP ku ini”. “selera orang itu kan berbeda-beda Bib”
jawabku. Habib pun, mulai memaklumi. Tidak terasa hari pun semakin larut Ridho
dan Habib pamit pulang karena besok kami akan masuk kuliah.
Hari yang cerah, secerah hatiku di hari kamis
ini, Aku sudah sampai di sekolah jam 07.30 tadi. Waktu di dalam kelas, kosma
(ketua kelas) mengumumkan informasi kepada kami, “Teman-teman sekalian.... ada
berita penting. Yang pertama, akan diadakan perlombaan lagu band 2014 yang di
sponsori oleh salah satu operator seluler, akan diadakan di depan fakultas sains
tekhnologi. Yang kedua, akan diadakan festival budaya melayu di gedung PKM. Di
dalam festival budaya melayu ini, ada tiga kategori cabang yang diperlombakan,
yaitu kompetisi lagu melayu, lomba tari melayu dan lomba teater bertema budaya
melayu”
Kosma
menambahkan bahwa kedua acara tersebut, sama-sama dilaksanakan pada tanggal 07
januari 2014, bagi yang berniat agar mendaftarkan diri secepatnya ke sekretaris
kelas kami yaitu saudari Nur. Karena dosen belum hadir, teman-teman yang hadir
di dalam kelaspun mulai mendaftarkan diri masing-masing. Sungguh
memprihatinkan, yang mengikuti lomba Festival Budaya Melayu dari kelas kami
hanya aku sendiri, sedangkan yang mengikuti lomba lagu band berjumlah sepuluh
orang, kembali aku menghela nafas dalam-dalam di tengah-tengah zaman yang
semakin edan.
Beginilah nasib budaya melayu di generasiku
ini, entahlah apakah mereka lupa atau sengaja dilupakan, aku berjanji suatu
saat nanti akan mengangkat harkat dan martabat budayaku ini. Berselang
seperempat jam sang dosen datang dan memberikan pelajaran kepada kami. Kamipun
belajar seperti biasanya.
Tiada terasa detik berganti dengan menit,
menit berganti dengan jam, jam pun
berganti hari, tibalah saatnya hari yang aku nantikan, ya hari ini aku akan
tampil maksimal dalam lomba lagu melayu. Aku berjalan mengikuti arah jejak kaki
menuju gedung PKM yang sudah di tata sedemikian rupa, aku duduk di tempat yang
sudah disediakan oleh panitia. Selanjutnya penampilan nomor peserta sepuluh
kata sang MC, ku langkahkan kaki menuju panggung, aku menyanyikan lagu lancang
kuning di hadapan ratusan penonton yang jadi saksi terselenggaranya acara.
Sorak-sorai dan tepuk tangan penonton mengiringi penampilanku, aku berusaha
tampil semaksimal mungkin demi budaya yang aku cinta.
Tepat pada pukul 15.00 pengumumkan acara pun
dimulai, hatiku berdetak kencang ketika mendengar MC membacakan nama para
pemenang, “Kategori pemenang lagu melayu terbaik adalah, juara tiga jatuh
kepada nomor peserta 28 atas nama Muhammad Abdi dari fakultas tarbiyah, juara kedua
jatuh kepada nomor peserta 07 atas nama Siti Khodijah dari fakultas sains
tekhnologi, dan inilah dia yang kita nantikan juara pertama jatuh kepada....
siapa ya kira-kira, tanya sang MC. Hatiku semakin berdetak kencang, aku pasrah
bagaimanapun hasilnya, karena aku sudah berusaha tampil semaksimal
mungkin.
“Juara pertama jatuh kepada nomor peserta 10
atas nama Mustopa Kamal dari fakultas Syariah”,
aku pun langsung sujud syukur kepada Sang Khalik. hatiku sungguh bahagia
sekali dihari yang sangat bersejarah ini. Kemudian MC memberikan kesempatan
kepadaku untuk menyampaikan beberapa patah kata, aku mengucapkan terima kasih
kepada semua orang yang telah mendukungku dan yang telah mendukung
terselenggaranya acara ini. Di di atas panggung aku ungkapkan jeritan hati
melalui sajak puisi yang berbunyi:
Budaya melayu di
generasiku...Budaya melayu nasibmu kini....
Engkau laksana debu yang
dihempas angin di tengah gersangnya gurun sahara
Engkau laksana buih yang
terhanyut di tengah derasnya arus sungai Siak
Aku ingin jadi saksi
kejayaanmu di sudut kota ini
Aku ingin engkau jadi raja di
negerimu sendiri
Aku yakin suatu saat nanti
engkau akan jadi primadona
Aku yakin suatu hari nanti
kau akan dicintai generasi muda
Budaya melayuku, engkaulah
jati diriku.
Setelah semua acara selesai aku melangkah
menuju pulang, ku tinggalkan gedung yang tadinya dipenuhi lautan manusia.
Ketika di halaman gedung, aku menatap ke langit biru, terlihat olehku mentari
yang perlahan-lahan terbenam di ufuk barat, tersenyum manis kepadaku. Mentari
tersebut seolah ikut merasakan kebahagiaanku dihari yang bersejarah ini. Hati
kecilku berjanji perestasi ini akan menjadi pemicu bagiku untuk melestarikan
dan memajukan kebudayaan ini, budaya melayu.
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar